|   Home   |   About Us   |   Products ( 199 ) |   Tips & Trick  |   Contact Us   |
Tren PHEV Melanda Dunia Otomotif

Hibrida Konvensional


Mobil hibrida bukan lagi konsep baru di dunia otomotif. Hibrida tak hanya diterapkan pada mobil penumpang, juga sudah sampai ke kendaraan komersial, yaitu truk. Kombinasi tenaga yang digunakan, mesin bensin (penumpang) dengan motor listrik dan mesin diesel (komersial atau truk) dengan motor listrik. Juga sudah dijual secara komersial, termasuk di Indonesia.

Perbedaan antara sistem hibrida lama atau konvensional dengan PHEV ada pada pengisian baterai. Pada sistem hibrida konvensional, baterai atau aki yang digunakan hanya diisi oleh listrik yang dihasilkan dari mobil itu sendiri, yaitu mesin yang digunakan. Sedangkan pada PHEV, baterai yang digunakan bisa diisi dengan menggunakan listrik dari rumah tangga.

Sistem hibrida konvensional sebenarnya sudah bekerja sangat efektif untuk mengirit bahan bakar dan menekan emisi. Energi yang sebelumnya dipastikan terbuang, bisa diambil lagi atau dimanfaatkan. Misalnya, dengan menggunakan sistem “ISG” atau “integrated starter- generator”. Di samping itu, juga memanfaatkan energi kinetik dari setiap roda ketika mobil dikurangi kecepatannya, direm atau pun berhenti untuk sesaat.

Pada sistem hibrida konvensional misalnya dengan konsep ISG, saat mobil melambat atau direm, komponen yang semula berfungsi sebagai starter, berubah menjadi generator. Listrik yang dihasilkan generator disimpan di baterai. Selanjutnya, pada kondisi-kondisi tentu, energi dari baterai digunakan memutar motor listrik untuk menggerakkan mobil atau membantu mesin konvensional mempercepat laju kendaraan.

Contohnya, saat mobil dikebut atau berakselerasi. Ketika pedal gas ditekan, bukan putaran mesin yang naik, tetapi sistem hibirida mengaktifkan motor listrik untuk membantu mesin utama menggerakkan atau mendorong laju mobil semakin kencang. Energi dari baterai juga digunakan untuk aksesori pada mobil, misalu audio, AC, lampu-lampu dan sebagainya.

Bahkan saat mobil berhenti cukup lama di persimpangan, misalnya waktu menunggu lampu hijau, sistem bisa mematikan mesin utama (sistem start & stop). Selanjutnya mobil menggunakan motor listrik yang memperoleh energi dari baterai untuk start awalnya. Hasilnya, konsumsi bahan bakar mobil hibrid jadi sangat irit. Di samping itu, emisi gas buangnya juga rendah.

Plug-In


Untuk meningkatkan daya tarik mobil hibrida, pengisian baterai tak lagi hanya digantungkan pada mesin di mobil. Sistem sudah dilengkapi dengan colokan dan sistem kelistrikan yang digunakan di rumah tangga. Dengan cara ini pula, untuk menjalankan mobil, tak lagi bergantung pada mesin pembakaran yang digunakan selama ini. Konsep ini dikembangkan oleh GM pada mobil yang baru diluncurkannya, yaitu Chevy Volt. Terakhir, Toyota Prius juga sudah menjalankan cara ini.

Menurut GM, dengan cara di atas, Chevry Volt bisa mengirit bensin 1.892 liter per tahun dengan rata-rata pemakai mobil 15.000 km/tahun. Alhasil, faktor baterai menjadi sangat penting. Mobil pun diharapkan bisa dijalankan dengan mengandalkan baterai saja untuk jarak 60 km.

Pada Volt, mesin bensin hanya pendukung, sedangkan listrik sebagai penggerak utama. Jenis baterai yang banyak digunakan saat omo adalah lithium-ion. Alasannya, lebih cepat diisi, kemampuan menyimpan energi listrik juga besar.

Perkembangan sistem hibrida ini sangat beragam. Setiap perusahaan melakukan pengembangan dengan cara mereka sendiri. Cukup menarik adalah sistem hibrida “plug-in”yang dikembangkan oleh Volvo dan diperkenalkan ke publik beberapa bulan lalu. Perusahaan mobil asal Swedia ini, berusaha mengurangi mekanisme yang menggerakan roda. Untuk itu, mobil tidak menggunakan as roda atau sistem kopel. Mesin langsung disatukan dengan generator. Selanjutnya generator yang memasok energi listrik ke motor listrik yang dipasang di setiap roda untuk menjalankan mobil.

Di beberapa negara, tren PHEV diantisipasi oleh perusahaan listrik. Mereka pun bekerjasama dengan perusahaan mobil untuk menyediakan infrastruktur untuk pengisian. Hal ini, tentu saja memberikan peluang baru bagi perusahaan listrik membuat bisnis baru.

Target besama mereka, mengurangi pemanasan global yang ditimbulkan gas buang karena jumlah kendaraan terus bertambah. Di samping itu, juga untuk membantu mengurangi keresahan pemilik mobil karena harga bahan bakar minyak terus naik.

Meski sistem PHEV menarik banyak para ahli otomotif, kenyataannya masih saja ada yang khawatir, kondisi ini menyebabkan polusi pada tempat tertentu makin parah. Pasalnya, tenaga listrik yang diambil, tetap menggunakan energi karbon yang dibakar. Karena itu pula, PHEV bisa mengarah ke mobil listrik murni.

Masalah lainnya, PHEV membutuhkan inftrastruktur. Agar pengisian baterai bisa dilakukan di banyak tempat, misalnya di tempat parkir, harus disediakan colokan listrik. Dengan cara demikian, listrik sebagai sumber daya yang tidak menimulkan polusi dapat dimaksimalkan.

Kendala
Meski mobil hibrida dan PHEV memberikan nilai tambah secara ekonomi dan juga membantu mengurangi pemanasan global, kelebihan tersebut belum dapat mengubah “mainset” sebagian besar konsumen mobil dunia. Pasalnya, pertambahan perlengkapan yang cukup banyak dan sistemnya cukup rumit, menyebabkan harga mobil jadi lebih mahal.

Sebagai contoh, perbedaan antara Honda Civic dengan mesin konvensional dan hibrida di Indonesia mencapai Rp 170 juta. Faktor ini pula yang menyebabkan mobil hibrida terkenal dari Toyota, Prius, belum bisa dikomersialkan di Indonesia. Di samping itu, baterai selain menyita sebagian ruang mobil, juga menambah bobot kendaraan sampai 200 kg. Komponen terakhir inilah pula yang kini gencar dikembangkan oleh para ahli otomotif. (Kompas)

 

.:: Copyright by aksesorismobil.com © 2007 - All rights reserved ::