|   Home   |   About Us   |   Products ( 199 ) |   Tips & Trick  |   Contact Us   |
Agrofuel, Petani Kecil "Memberi Makan Dunia"

Melonjaknya harga minyak dunia yang makin memuncak dalam beberapa minggu terakhir, makin mendorong upaya banyak pihak untuk mencari sumber energi alternatif. Bahan bakar nabati yang dihasilkan dari bahan-bahan pangan kini menjadi primadona pengembangan bahan bakar alternatif. Sebutlah, jagung, kedelai, tebu, yang kini menjadi beberapa komoditi ideal untuk 'proyek' tersebut.

Sayangnya, alternatif energi itu datang bukan tanpa masalah. Dampak yang lebih serius tengah mengancam ketahanan pangan, tidak saja di Indonesia, tapi pun telah menjadi isu global. Salah satu bentuk keprihatinan atas ancaman tersebut diwujudkan dalam sebah konferensi pers yang diadakan Gerakan Petani Internasional, di Jakarta.

Pengembangan agrofuel banyak dipandang sebagai langkah untuk menyelamatkan dunia dari perubahan ilkim. Sayang, pada kenyataannya derita lain justru mulai muncul.Perluasan penananaman perkebunan untuk memproduksi argofuel telah mengakibatkan peningkatan produksi gas sebagai akibat dari penggundulan hutan, penggusuran tanah-tanah adat dan pengeringan rawa-rawa.

Selain itu pengembangan agrofuel juga berdampak buruk baik dari sisi sosial dan ekologis. "Pengembangan agrofuel dengan cara monokultur dan industrial akan mengakibatkan kerusakan pada tanah persediaan air, dan keanekaragaman hayati,” kata Henry Saragih selaku Ketua Umum SPI (Serikat Petani Indonesia).

Tidak hanya itu, bahkan dapat berdampak pula pada keluarga petani karena mereka akan terusir dari ladang pertaniannya. Menurut Profesor Francois Houtart, Profesor Emeritus dari Universite Catholique de Louvain Belgia, agrofuel bukan jawaban dari krisis energi yang terjadi di berbagai belahan bunia ini. “Agrofuel hanya mampu bertahan sampai 2020,” katanya.

Produksi karbondioksida yang dihasilkan dari produksi agrofuel sama dengan produksi yang dihasilkan dari produksi dari bahan bakar fosil. Jika produksi agrofuel terus dikerjakan maka akan merusak tidak hanya keanekaragaman hayati seperti tanah dan air, tapi juga merusak kehidupan sosial dan menimbulkan krisis pangan.

Selain tidak mampu menggantikan bahan bakar fosil, agrofuel juga dianggap merusak keseimbangan ekosistem karena untuk mengembangkannya, banyak hal yang harus dikorbankan. Produksi agrofuel membutuhkan lahan yang luas dengan sistem monokultur. Sistem semacam ini sangat membutuhkan air yang sangat banyak. “Padahal kita tahu sekarang banyak orang yang kekurangan air. Bahkan harus membeli air,” kata Henry menambahkan.(Kompas)

 

.:: Copyright by aksesorismobil.com © 2007 - All rights reserved ::